Bagaimana Berat Badan Pengaruhi Kondisi Kesehatan

KOMPAS.com – Berat badan sangat berpengaruh pada status kesehatan seseorang. Entah itu kegemukan atau berat badan kurang. Kegemukan memang menjadi salah satu pemicu penyakit kronis, seperti meningkatkan risiko penyakti diabetes dan jantung. Namun, tubuh yang terlalu kurus juga sama bahayanya. Dokter ahli jantung Steven Nissen, menjelaskan ada empat alasan yang membuat berat badan sangat berpengaruh pada kondisi kesehatan kita. Peningkatan berat badan menyebabkan tekanan darah tinggi, yang merupakan faktor risiko serangan jantung dan stroke. Kelebihan berat badan juga terkait dengan kolesterol tinggi, khususnya trigliserida tinggi dan HDL rendah (kolesterol baik), yang memainkan peran penting dalam penyakit jantung. Berat badan berlebih juga berisiko tinggi pada diabetes, yang merupakan pemicu lain dari penyakit jantung. Sel-sel lemak, terutama yang ada di daerah perut, adalah metabolisme aktif. Inilah yang menyebabkan peradangan di tubuh. Kita dapat mengukurnya dari jumlah protein C-reaktif dalam darah. Semua faktor ini – hipertensi, kolesterol tinggi, diabetes dan peradangan – bersatu, menciptakan gangguan yang terkait dengan penyakit jantung. Baca juga: Kenalilah, 5 Kebiasaan Baik untuk Turunkan Berat Badan Terlalu kurus Di lain pihak, tubuh yang terlalu kurus ternyata juga berbahaya bagi kesehatan jantung. Walau hal ini masih kontroversial. Orang dengan barat badan rendah (indeks massa tubuh di bawah 18), bisa jadi sebenarnya sudah dalam kondisi sakit dan memiliki nafsu makan yang rendah. Bahkan, penurunan berat badan seringkali menjadi salah satu tanda pertama dari penyakit kanker. Pasien dengan gangguan makan anoreksia dapat memiliki berbagai masalah kesehatan, termasuk penyakit jantung, karena mereka kurang gizi. Dari perspektif itu, kondisi berat badan adalah faktor memburuknya kesehatan jantung. Indeks massa tubuh normal dan menunjukan kondisi kesehatan yang baik berkisar 20 hingga 25. BMI normal Orang dengan indeks massa tubuh (BMI) antara 25 hingga 30 sudah dianggap kelebihan berat badan, dan berisiko lebih tinggi pada penyakit jantung. Baca juga: Takut Meninggal, Pria Obesitas Ini Berjuang Turunkan Berat Badan BMI 30 hingga 35 sudah dianggap obesitas dan risikonya terhadap penyakit jantung sangat tinggi. Sementara itu, pemilik BMI lebih dari 35 telah dianggap sebagai risiko serius. Namun, bukan hanya BMI yang menjadi acuan penting. Rasio antara ukuran pinggang dan pinggul juga bisa menjadi faktor penting. Kelebihan berat badan di area perut (bentuk tubuh apel) berisiko mengalami penyakit jantung lebih tinggi daripada mereka dengan kelebihan berat badan di area pinggul dan paha (pemilik bentuk tubuh pir). Pria cenderung mengalami kelebihan berat badan dengan bentuk tubuh apel. Sementara itu, wanita cenderung mengalami kelebihan berat badan bentuk tubuh pir. Pemilik tubuh berbentuk pir lebih rendah mengalami masalah metabolisme, seperti diabetes dan tekanan darah tinggi – terkait dengan penyakit jantung. Inilah sebabnya mengapa rasio ukuran pinggang dan pinggul sama pentingnya dengan BMI. Semakin tinggi rasionya, semakin besar risiko penyakit jantung. Lalu, apakah menurunan berat badan juga dapat meningkatkan kesehatan jantung kita? Menurunkan berat badan dua sampai tiga kilogram dapat menurunkan tekanan darah sebanyak 5 mmHg. Sementara itu, mengurangi berat badan hanya dua hingga lima persen dari berat badan total akan meningkatkan HDL dan mengurangi trigliserida sebanyak 20 persen. Ini adalah bukti kecil bahwa penurunan berat badan dapat membuat perbedaan besar.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “Bagaimana Berat Badan Pengaruhi Kondisi Kesehatan “, https://lifestyle.kompas.com/read/2019/04/05/134540420/bagaimana-berat-badan-pengaruhi-kondisi-kesehatan?page=all.
Penulis : Ariska Puspita Anggraini
Editor : Lusia Kus Anna

Related posts

Leave a Comment